
Black Christmas mengisahkan tentang gadis-gadis yang harus tinggal diam di tempat khusus perkumpulan wanita dan menghabiskan Malam Natalnya di rumah tersebut. Kelli (Katie Cassidy), Heather (Mary Elizabeth Winstead), Melissa (Michelle Trachtenberg), Dana (Lacey Chabert), Lauren (Crystal Lowe), Megan (Jessica Harmon), Claire (Leela Savasta) dan Eve (Kathleen Kole) harus menemani Mac (Andrea Martin) penjaga mereka dalam Malam Natal. Namun, bukanya didatangi oleh keluarga dan saudara-saudara mereka. Kedelapan gadis kurang beruntung ini malah didatangi dengan pembunuh yang dulu sempat tinggal di rumah tersebut. Para gadis ini, beserta Mac dan kakak dari Claire, Leigh (Kristen Cloke) harus bersusah payah membunuh sang pembunuh yang tanpa alasan akan membunuh mereka satu-per-satu.
Glen Morgan langsung memberikan gambaran di awal film bagaimana Black Christmas akan berjalan. Menurut saya, Black Christmas tidaklah begitu buruk. Akting para pemainya mungkin tidak dapat diacungi jempol. Katie Cassidy dan Michelle Trachtenberg adalah kedua wanita yang paling membuat mata saya terbuka lebar. Mary Elizabeth Winstead sedikit lebih kaku disini. Memang seperti apa yang terlihat bahwa Black Christmas terkadang tidak begitu mementingkan akting para pemainya melainkan kemolekan tubuh setiap pemainya. Crystal Lowe cukup berani bermain dengan vulgar disini. Gore nya memang kurang mampu membuat penonton terkencing-kencing. Apa yang dilakukan disini adalah pembunuh terlalu berusaha untuk membuat penontonya terngilu-ngilu. Namun itu semua gagal karena adegan tersebut berjalan sangat cepat sehingga penonton kebingungan harus bertindak apa selain mengikuti saja adegan demi adeganya. 10 menit awal memang berjalan dengan cukup menyenangkan. Dimana para gadis ini sudah dibantai satu per satu. Namun ketika film berjalan, Black Christmas hanya menjadi film slasher yang sama seperti film horror-slasher serupa dan sebuah film horror-slasher yang predictable. Namun, cukup menegangkan untuk menyaksikan momen-momen dimana detik-detik sebelum para pemainya dibunuh. Dan menyukai cara pembunuh memilih karakter siapa yang duluan dan siapa yang berikutnya. Saya tidak mengerti mengapa film ini banyak sekali dibenci. Film ini hanya ingin menghibur penontonya walaupun memang hasilnya bukanlah sebuah karya yang membanggakan.

Overall, Black Christmas memang tidak menawarkan apa-apa selain gadis-gadis cantik nan rupawan yang siap untuk dibantai satu per satu. Adegan pembunuhan terasa terlalu cepat sehingga para penonton tidak tahu benar apa yang terjadi sesungguhnya. Namun, Glen Morgan mampu menciptakan ketegangan demi ketegangan sesaat para gadis-gadis ini dibunuh. Dan flashbacks yang menyenangkan. Di Flashbacks nya, Glen Morgan betul-betul teliti dalam menceritakan hal-hal yang terjadi. Ya, seperti yang telah saya katakan. Tidak menawarkan sesuatu yang istimewa untuk sebuah horror-slasher. Minimnya momen mengejutkan juga cukup disayangkan. Tapi saya tetap menyukai film yang satu ini. Menyenangkan dan mampu menciptakan ketegangan di beberapa menit sebelum credits bergulir. Menyenangkan, Menghibur dan masih layak untuk dinikmati!
C+
No comments:
Post a Comment