23 August 2012

Coming Soon: Rumah Kentang

Rumah Kentang adalah film horor yang disutradarai oleh Jose Poernomo yang dulu dikenal dari film horror yang mungkin bisa dikatakan sebagai horor ter-seram Indonesia sepanjang masa, Jelangkung. Jose Poernomo memang agak tersesat belakangan ini, terjerumus kedalam film-film horor Indonesia yang sangat tidak layak tonton. Kini, Jose Poernomo kembali dengan "Rumah Kentang" nya. Rumah Kentang sendiri diangkat dari cerita sebuah rumah di Jakarta yang memang sering diperbincangkan orang-orang. 

Rumah Kentang sendiri akan diisi oleh para pemain yang mudah-mudahan tidak mengecewakan. Shandy Aulia, Tasya kamila,Chintami Atmanegara,Gilang Dirgahari, Ki Kusumo dan Rina Rose. Rumah Kentang saya yakini akan berbeda dari film-film horor Indonesia belakangan ini. Dan mudah-mudahan jose Poernomo mampu membawa kembali atmosfir berbeda ketika sedang menyaksikan film garapan Jose Poernomo ini. Tidak sabar untuk yang satu ini!


Saksikan di bioskop kesayangan anda tanggal 04 oktober nanti!!




22 August 2012

Perahu Kertas (2012)


Perahu Kertas adalah film adaptasi dari novel yang berjudul sama juga karangan Dewi Dee Lestari. Saya sempat membaca novel-nya sedikit. Kata teman-teman saya, novel nya memang salah satu novel paling terkenal. Saya sebenarnya sudah dapat menduga bahwa film Perahu Kertas akan difilmkan cepat atau lambat, dan pada saat itu saya sangat berharap bahwa Perahu Kertas tidak jatuh di tangan yang salah. Setelah mendengar bahwa Hanung Bramantyo lah yang akan mengambil alih semuanya, saya semakin tidak sabar akan apa yang bakal ia sajikan kepada para penontonya. 

Perahu Kertas menceritakan tentang seorang gadis bernama Kugy (Maudy Ayunda) yang memiliki tingkat imajinasi yang sangat tinggi. Kugy mempunyai teman dekat bernama Noni (Sylvia Fully) dan Eko (Fauzan Smith). Kugy kemudian bertemu dengan saudara Eko yang datang dari Belanda bernama Keenan (Adipati Koesmaji). Sejak bertemu, Kugy dan Keenan merasa sangat nyaman sampai ketika Keenan bertemu dengan seorang gadis bernama Wanda (Kimberly Ryder) yang mengubah segalanya.

Kugy dan Keenan kemudian terpisahkan. Namun ada saja yang membuat mereka terus bertemu kembali. Permasalahan pun muncul ketika Kugy tidak hadir di pesta ulang tahun sahabatnya sendiri. Dan ketika Keenan tiba-tiba mundur dari kuliah ekonomi-nya, dan memutuskan untuk mengejar mimpinya untuk menjadi seorang pelukis yang profesional. Tetapi, Kugy sudah menemukan kekasih hatinya yakni bos nya sendiri Remi( Reza Rahadian) dan begitupula dengan Keenan yang sudah bertemu dengan seorang gadis bali (Elyzia Mulachela).

Tepuk tangan untuk Hanung Bramantyo yang bisa dikatakan berhasil menggarap film adaptasi ini dengan cukup baik. Saya memang tidak menikmati nya seratus persen, namun saya harus mengakui bahwa saya sangat menyukai film Perahu Kertas ini. Dan mungkin bukan hanya saya, namun seluruh penonton-nya. Dan tak disangka ternyata tiket Perahu Kertas habis terjual. Perahu Kertas adalah film drama yang sangat mudah untuk dicintai siapa saja. Perahu Kertas pastinya akan lebih digemari oleh kaum hawa, sebab film ini cenderung sedikit lebih lembek. 

Perahu Kertas patut bangga karena memiliki Maudy Ayunda yang bermain dengan sangat brilian. Tidak lupa pula dengan Adipati yang juga bermain dengan cukup bagus. Yang saya tidak sukai di sepanjang film ini adalah Sylvia Fully, Fauzan Smith dan Kimberly Ryder yang sepertinya akting mereka terlalu dipaksakan. Selain nama mereka bertiga, semuanya tampil dengan mempesona. Mungkin casts terbaik di tahun ini. Apalagi Ira Wibowo dan Reza Rahadian yang walaupun porsi nya tidak terlalu banyak namun paling menonjol diantara yang lainya.

Overall, Perahu Kertas adalah film drama imut dan menyegarkan setiap penontonya dengan adegan demi adegan yang terasa sangat pas dan sangat sayang untuk dilewatkan. Pernah berpikiran bahwa film ini terlampau lama? saya juga. 110 menit untuk film drama Indonesia memang cukup berani. Tidak ada rasa kecewa dan menyesal setelah keluar dari bioskop. Karena Perahu Kertas adalah film yang sangat menghibur dan menyentuh para penontonya. Belum bisa membuat saya menitikkan air mata, namun masih bisa membuat saya berkata "aaawh". Ditemani dengan soundtracks yang sangat membuat hati nyaman dan buru-buru mencari siapa yang menyanyikan ini dan ini. Dan pesan saya adalah jangan menonton film ini dalam keadaan terburu-buru. Karena harus cukup sabar untuk menonton film ini dan mengikuti kisah Kugy, Keenan dan Perahu Kertas ini sendiri. Fresh,cute and enjoyable!



B

21 August 2012

Step Up Revolution (2012)

 
Saya tidak pernah sekalipun ketinggalan untuk menonton seri setiap seri dari film Step Up ini. Yang terbaik menurut saya sejauh ini adalah yang kedua. Terus diikuti oleh yang pertama yang diperankan oleh Channing Tatum, kemudian yang ketiga. Sangat disayangkan, film ketiganya gagal untuk membuat saya merinding ketika melihat mereka menari. Ketika mendengar seri keempatnya akan tayang, saya sudah tidak sabar menonton dengan ekspetasi setinggi-tinggi mungkin. Step Up Revolution memang bukanlah seri terbaik, namun saya tetap akan memberikan Scott Speer dua jempol untuk film nya yang hot ini.

Step Up Revolution menceritakan tentang Sean (Ryan Guzman) yang adalah salah satu kelompok tari yang banyak diperbincangkan seluruh orang di dunia akan siapa anggota-anggota dari kelompok tari yang sering sekali lolos dari incaran para polisi yaitu The Mob. Kemudian, Sean bertemu dengan Emily (Kathyrn McCornick) yang kemudian resmi bergabung bersama The Mob. Misi The Mob hanyalah satu, untuk mendapatkan uang dari kompetisi dengan cara meraup kunjungan sebanyak-banyaknya. 

Cerita Step Up Revolution memang tidak menghadirkan sesuatu yang fresh dan baru. Memang hanya mengandalkan tarian dan koreografi yang semakin lama semakin baru dan menyenangkan. Step Up Revolution dengan cepat menjadi seri yang sangat mudah dicintai oleh saya. Entah mengapa banyak sekali yang menjelek-jelekan seri yang satu ini. Koreografi nya yang mungkin belum pernah kita lihata sebelumnya mampu membuat para penontonya terpukau akan kelompok The Mob ini.

Apa yang membuat saya sangat menyukai seri keempatnya ini adalah aksi tari yang terus menerus dipertunjukkan, layaknya The Expendables kita dipertunjukkan aksi tembak-tembakan dan baku hantam terus menerus. Bertambahnya porsi adegan tari-menari disini dapat menambah poin plus dari saya untuk film ini. jika ingin membandingkan Step Up Revolution dengan Step Up 3D, Saya lebih memilih Step Up Revolution. Selera orang berbeda-beda, saya yakin siapapun yang membaca review ini dan lebih menyukai saya pasti akan memaki-maki saya bahwa saya lebih memilih Step Up Revolution. Moose dan kawan-kawan memang menghibur, dan final dance Step Up 3D memang lebih memukau dari Step Up Revolution, namun Step Up Revolution lebih ngena dihati saya. 

Step Up Revolution bagi saya adalah come-back nya seri Step Up. Porsi drama nya pas, dan porsi tari-menari lebih diperbanyak sedikit. Kadang memang tampak sedikit membosankan. Tidak didukung sama sekali oleh para pemain nya disini. Departemen Akting adalah bagian terlemah dari Step Up Revolution. Naskah Cerita pun tidak menawarkan sesuatu yang baru. Namun, secara keseluruhan Step Up Revolution adalah seri kedua favorit saya. Tidak lupa pula akan scoring yang menemani adegan setiap adegan yang sangat ear-catchy. Seperti Undone dari Haley Reinhart, Bad Girls M.I.A dan lagu-lagu lainya. Ya, mungkin bagi beberapa orang Step Up hanya sebatas film dance dengan jalan penceritaan yang lemah. Namun, bagi saya Step Up bukanlah hanya sekedar film yang seperti kalian pikirkan. Dan film ini sangat tidak pantas untuk dibenci dan dicaci maki. Nikmatilah saja film ini. Saya merekomendasikan film ini untuk para pecinta Step Up! Hot movie.



B

20 August 2012

The Expendables 2 (2012)



Apa lagi hal terkeren selain melihat segerombolan bintang-bintang papan atas seperti Sylvester Stallone, Chuck Norris, Van Damme, Bruce Willis, Arnold Schwarzenegger dan lainya dalam satu film aksi yang memnag sudah ditunggu-tunggu? Rasanya memang film ini wajib ditonton untuk pecinta film-film aksi yang isinya ledakan, tembakan dan aksi-aksi baku hantam. Tidak lupa juga Jet Li, Terry Crews, Dolph Lundgren dan Jason Statham yang kembali beraksi di film keduanya ini. Di Expendables 2, pastinya akan lebih banyak aksi-aksi spektakuler dibandingkan yang pertama. Selama 90 menit lebih, kita diberi makan aksi-aksi dari bapak-bapak tua ini yang akan membuat kita menganga.


The Expendables 2 masih beranggotakan orang-orang yang dulu, Barney Ross (Sylvester Stallone), Lee (Jason Statham), Yang (Jet Li), Gunner (Dolph Lundgren), Hale (Terry Crews), dan Toll (Randy Couture) namun sedikit lebih berbeda karena adanya Trench (Arnold Schwarzenegger), Billy (Liam Hemsworth) dan Maggie (Nan Yu) yang siap membantu para bapak-bapak ini melawan para musuh-musuh yang siap untuk ditendang bokong-nya. Misi mereka kali ini, mereka ditugaskan untuk mengambil sebuah benda yang katanya berharga dari pesawat terbang yang jatuh di Albania.
The Expendables 2 memang mementingkan aksi-aksi para pemain, tidak salah memang. Simon West kali ini mampu mengeksekusi film keduanya lebih baik dari yang pertama. Film pertama jelas berbeda dengan keduanya, selain para pemain-pemainya. Di film keduanya ini, The Expendables 2 disisipi lelucon dan jokes yang benar-benar lucu. Jika saatnya pemain-pemain di dalam film bersantai, maka keluarlah lelucon-lelucon lucu dari para mulut yang bisa membuat kita tertawa. Tidak hanya dari mulut mereka, juga dari adegan-adegan yang mereka lakukan yang tampak natural.

Ceritanya memang tidak terlalu dipentingkan sepertinya, yang terpenting adalah aksi aksi dan aksi. Kita memang sudah diperlihatkan aksi itu dari menit-menit awal. Ini hanya saya yang merasa atau bagaimana, saya merasa perkelahian antara Vilain dengan Barney Ross sedikit kurang geregetan. Why not save the best for the last?  Namun, sebaiknya saya lupakan saja. The Expendables 2 memang tingkat kesadisan nya sama saja. Tidak lebih sadis dari yang pertama dan juga tidak kurang sadis dari yang pertama. 

The Expendables 2 mungkin adalah salah satu film aksi terbaik ditahun ini. Adanya Liam Hemsworth dan Yu Nan memberi angin segar. Apalagi bagi kaum hawa yang akan menonton film ini pasti akan ternganga melihat Liam Hemsworth disini, dan pastinya tergila-gila. Begitu pula Yu Nan. Simon West membuat The Expendables 2 begitu memorable, sampai sekarang saja saya masih teringat akan aksi-aksi spektakuler nan megah para casts nya. Seperti yang saya katakan 90 menit kita diberikan aksi non-stop yang sangat menghibur.

B+

11 August 2012

Quick Review: The Descendants (2011) & Gone (2012)


Seorang ayah bernama Matthews King (George Clooney) yang sedang tertimpa suatu masalah yaitu istrinya yang dalam keadaan koma akibat terjatuh dari perahu motor. Matt kemudian dihadapkan dengan masalah bahwa anak-nya Scottie (Amara Miller) yang sudah tumbuh dewasa sebelum umurnya dan Alex (Shaine Woodley) yang sudah kelewat batas. Descendants adalah film ringan namun menyenangkan untuk diikuti. Film yang akan saya tonton berulang-ulang kali. George Clooney bermain dengan sangat baik. Seluruh pemain disini bermian dengan cukup baik. The Descendants pada akhirnya adalah film drama-comedy yang ditujukan untuk para keluarga dengan sisipan pesan-pesan yang sangat berharga. Ini adalah film yang berkualitas. Film yang tidak terlalu bersusah payah berharap untuk disukai oleh seluruh penonton, karena secara natural fim ini adalah film yang sangat menghibur. Satu hal yang sangat disayangkan hanyalah ending dari film ini yang mungkin akan lebih baik jika tidak berakhir seperti ini. Well, worth to watch.

B+



Menceritakan tentang seorang gadis bernama Jill (Amanda Seyfried) yang sibuk mencari sang adik, Molly (Emily Wickersham) yang hilang secara tiba-tiba dari rumahnya. Tidak tahu dimana sang adik, dan tidak ada seorang pun yang tahu. Jill akhirnya berusaha sendiri untuk mencari sang adik tanpa bantuan seorang pun, keadaan semakin rumit ketika Jill harus berurusan dengan para polisi yang tidak mempercayainya sama sekali. Ini adalah salah satu contoh thriller yang kurang dalam pengeksekusianya. Membuat Gone menjadi film yang tanggung. Seharusnya,  Heitor Dhalia mampu menciptakan momen-momen menegangkan karena Gone memiliki banyak adegan yang sebenarnya mampu tampil sangat kuat dan cukup menegangkan bagi penontonya namun dibiarkan berlalu dan terlupakan begitu saja. Tidak seluruhnya gagal, saya sangat menyukai Amanda Seyfried dari dulu sampai sekarang. Dan kali ini ia melakukan tugas-nya dengan baik. Tidak begitu mengecewakan, namun saya tahu Gone bisa tampil lebih baik lagi.

B-

09 August 2012

Detention (2012)


Detention menceritakan tentang seorang pembunuh yang dikenal sebagai Cinderella yang mengincar anak-anak Grizilly Lake untuk dibunuh. Tidak jelas motif pembunuhan nya, seorang anak perempuan yang malang bernama Riley (Shanley Caswell) yang telah bertemu dengan sosok wanita yang membawa kapak tersebut berkali-kali dan wanita tersebut ingin membununya namun tetap gagal. Riley dan tujuh orang teman lainnya kini harus mencoba mencari pelakunya yang ternyata berhubungan dengan masa lalu yang mengerikan.


Lagi-lagi film 2012 yang jauh di bawah ekspetasi saya. Sudah kesekian kalinya saya menonton film yang mengecewakan saya di tahun ini. Detention adalah film yang entah ber-genre apa. Namun masih bisa dikatakan sebagai film horror, thriller dan comedy. Unik memang premisnya, ceritanya memang unik namun saya tidak menikmati film ini dari awal hingga akhir. Oke, mungkin awal saya masih mengikuti film ini dengan baik, namun lama - kelamaan film ini seperti sebuah film candaan yang sangat tidak layak ditonton.

Mimpi apa sampai Josh Hutcherson mau bermain di film yang seperti ini. Tidak seratus persen sampah, namun mendekati sampah. Mendekati film yang tergolong tidak layak tonton. Namun keunikan film ini memang tidak dapat dipungkiri. Bisa dikatakan sang sutradara, Joseph Kahn sangat berani untuk menghadirkan film yang sudah sangat jarang dibuat belakangan ini. Unik sih memang. Keunikan nya itu mungkin yang membuat Joseph Kahn percaya diri bahwa film ini akan berhasil dan akan diterima dengan baik serta akan mendapatkan komentar-komentar positif. Setelah liat rating di berbagai sumber, film ini memang sangat mengecewakan. 

Masalah eksploitasi, dari nilai 1 sampai 10 saya akan berikan film ini nilai 6. Anda jelas akan melihat badan terputus-putus dan sebagianya. Namun tidak akan membuat anda merasa jijik menontonya, entah mengapa eksploitasi disini tidak terlalu mengesankan walaupun memang ditunjukkan dengan sangat frontal. Pimp spot saya harus berikan kepada adegan di awal film ketika sang pembunuh membunuh sang pemandu sorak atau cheerleader yang sangat mengjengkelkan tersebut.

Sekarang untuk masalah pemain-pemainya. Tidak ada akting yang mencolok, tidak ada aktris atau aktor yang bermain lebih baik dibandingkan pemain lainnya, namun jelas salah satu disini mempunyai karakter masing-masin yang serba unik. Josh Hutcherson, masih bermain seperti biasa. Sedikit kaku disini mungkin karena film ini keluar dari jalur-nya atau keluar dari genre yang seperti biasa ia mainkan. Dane Cook pun tampil sangat biasa saja, sangat netral. Tidak ada akting yang mencolok, tidak ada pula poin tambahan.

Joseph Kahn sebenarnya boleh-boleh saja menghadirkan film semacam ini, apalagi film semacam ini sangat digemari oleh anak-anak muda tidak hanya dari zaman dulu, namun zaman sekarang pula. Segi visual nya memang sangat menyenangkan, namun pada akhirnya saya kepusingan untuk memerhatikan yang mana untuk diperhatikan. Seperti Billy Nolan, saya tidak mengerti apa maksud dari Joseph Kahn tiba-tiba menghadirkan twist seperti itu. Ide cerita untuk kembali ke masa lalu memang cermat, namun Detention bukan film seperti itu. Para penonton disini sudah mengharapkan akan adanya film pembunuhan yang melibatkan anak-anak muda sialan seperti orang-orang di film ini. Bukan film yang semacam ini, kita tidak mengharapkan bahwa film nya akan menjadi seperti ini. Detention pun menjadi sebuah film yang sangat membosankan bagi saya.

Detention sepertinya hanya mampu dinikmati oleh orang-orang yang berimajinasi tinggi. Tidak dibantu oleh para pemain sama sekali membuat film ini terasa hambar, saya tidak merasakan udara segar sedikit pun. Bahkan dari pemain wanita nya pun. Detention tidak semengerikan yang anda pikir sebelumnya, menyesal telah menghabiskan waktu 89 menit hanya untuk film yang jauh dibawah ekspetasi. Dan untuk genre nya, comedy. Hm , saya tidak tertawa dan tersenyum sedikit pun. Film ini pun tidak ditujukan untuk remaja seluruhnya, mungkin untuk orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Detention pada akhirnya adalah film yang sangat mudah dilupakan. Bisa terlupakan dengan sendiri nya, maupun dilupakan dengan sengaja. Uh, sebaiknya hindari film ini sebelum anda merasakan kekecewaan dan kejengkelan saya sekarang. 
C-

08 August 2012

The Silent House (2012)


The Silent House menceritakan tentang Sarah ( Elizabeth Olsen ), paman nya Peter (Eric Sheffer Stevens) dan ayahnya John (Adam Trese) yang pindah kerumah barunya dan berniat untuk membereskan seluruh rumah. Tiba pertama kali sampai dirumah tersebut, Sarah sudah merasakan hal-hal aneh dari rumah tersebut. Mulai dari dikunjungi oleh temanya Sophia yang ia tidak kenal sama sekali, dan menemukan ayahnya dalam keadaan berdarah dan gadis kecil misterius yang terus menampakkan dirinya. Yang harus Sarah lakukan adalah bergegas untuk keluar dari rumah yang mengerikan tersebut.

The Silent House adalah film garapan Chris Kentis dan Laura Lau.  Memang cukup bisa dikatakan belum banyak karya-karya Chris dan Laura yang sudah kita kenal. Bahkan saya belum pernah mendengar salah satu film mereka sedikit pun. The Silent House tidak digarap dengan berhasil. Tidak sempurna. Bahkan sangat jauh dari sempurna. Namun untungnya The Silent House masih berada di tengah-tengah. 

Sebenarnya saya memang sudah ngebet ingin menonton film original nya yang dikenal dengan La Casa Muda. Trailer La Casa Muda tampak lebih meyakinkan. The Silent House bukanlah thriller terbaik yang pernah saya tonton. Tidak ada memang rasa menyesal setelah menontonya. Karena sesekali The Silent House berhasil mengejutkan para penonton dengan hantaman-hantaman yang keras. 

Jauh dibawah ekseptasi, berharap mendapatkan tontonan yang mengerikan. Sudah lama belum mendapatkan tontonan yang benar-benar mengerikan setelah Paranormal Activity dan Insidious. Namun saya tidak mendapatkanya di remake yang satu ini. Pimp spot saya harus berikan kepada adegan Sarah memotret beberapa kali dengan menggunakan kamera atau sejenis polaroid nya dan datang seorang laki-laki yang seperti menerkam nya. Mungkin beberapa adegan cukup hadir dengan mengejutkan. Namun The Silent House masih belum bisa dibilang sebagai film yang mengerikan. Dan saya bingung apakah saya harus merekomendasikan film ini atau tidak karena film ini benar-benar tanggung. 

Keseluruhan, The Silent House adalah film Thriller yang sedikit mengecewakan. Walaupun sudah ditutupi dan dibantu oleh akting Elizabeth Olsen yang jempolan. Liat saja berbagai ekspresi-ekspresi yang ia tunjukkan di sepanjang film. Durasi nya bukanlah suatu masalah, namun entah mengapa paruh awal film terasa begitu membosankan. Dan beberapa adegan sedikit terlihat terlalu dipaksakan. Tidak usah terlalu dipikirkan, nikmati saja sambil menghabiskan popcorn yang ada mungkin akan terasa lebih menyenangkan. Namun, kali ini Chris dan Laura bisa dibilang gagal menggarap remake yang satu ini. 
C+

07 August 2012

We Bought A Zoo (2011)

"We Bought a Zoo Poster"

Menceritakan tentang Benjamin Mee (Matt Damon) yang ingin memulai sesuatu yang baru semenjak istrinya meninggal dunia. Hubungan Benjamin dengan anak lelakinya, Dylan Mee (Collin Ford) tidak begitu baik. Itulah yang membuat Benjamin ingin memulai awal yang baru dengan pindah ke rumah baru yang tidak sengaja dipilih oleh nya sebuah kebun binatang yang terbuang. Benjamin ingin membangun kembali kebun binatang tersebut, dengan bantuan dari Kelly Foster (Scarlett Johanson) dan orang-orang yang masih peduli akan binatang-binatang dan kebun binatang itu sendiri.

We Bought A Zoo adalah film drama keluarga yang sangat pas jika disaksikan bersama seluruh anggota keluarga. We Bought A Zoo memiliki momen-momen yang sangat menyentuh, tanpa harus bersikap cengeng. Kita jelas bisa merasakan kepedihan dan kerinduan Benjamin akan istrinya, Matt Damon jelas sudah memerankan tokoh Benjamin dengan cukup baik. Segi cerita sebenarnya cukup mencuri perhatian dan membuat penasaran. Banyak orang yang menaruh film ini kedalam list film-film terbaiknya. Um, we'll see.

Saya tidak mengatakan bahwa saya seratus persen menikmati seluruh menit dan detik film ini. Malah menurut saya, durasi sepanjang 120 menit lebih terlalu lama dan terlalu bertele-tele. Maafkan saya. Tapi memang We Bought A Zoo sedikit membosankan di bagian awal. Tiba di bagian akhir, saya baru merasa bahwa We Bought A Zoo mulai mudah untuk dinikmati. We Bought A Zoo tidak menyuruh penontonya untuk berpikir keras, tidak. Film ini adalah film yang bisa dikatakan cukup ringan, maka itu film ini sangat layak jika ditonton oleh seluruh keluarga.

Untuk casts nya, Pimp spot harus saya berikan kepada Elle Fanning untuk bermain dengan sangat-sangat baik. Dialah udara segar di film ini. Kemudian, Scarlett Johanson juga cukup baik. Cukup, sudah pas. Matt Damon seperti yang sudah saya katakan sangat baik. Dan masih banyak lagi. Terutama si unyu Rosie, Maggie Elizabeth Jones yang juga mampu membuat kita tertawa sedikit. 

Hal yang paling saya sukai dari film ini adalah hubungan Benjamin dengan anak laki-laki nya. Cara Benjamin untuk memulai awal yang baru dengan membuat kebun binatang itu berharap anak laki-lakinya menyukainya. Saya merasakan sakit hatinya Benjamin. Selain hubungan antara ayah dan anak tersebut. Saya juga menyukai ending di film ini yang sangat-sangat menyentuh. Tidak perlu menangis, adegan tersebut sudah masuk ke hati saya. We Bought A Zoo bukanlah film yang lembek yang meningingkan penontonya untuk nangis darah ketika menyaksikanya. Lewat adegan-adegan menyentuh, kita bisa memetik pesan-pesan singkat yang sengaja disampaikan oleh Cameron Crowe disini.

Keseluruhan, We Bought A Zoo belum bisa saya masukan ke daftar film terbaik saya. Tidak istimewa, namun jelas saya akan meningat ending yang super-cute ini. We Bought A Zoo mempunyai beberapa adegan menyentuh. Sedikit membosankan, adakalanya berharap film ini untuk berakhir. Tetapi, We Bought A Zoo tetap mampu tampil menghibur. Berterimakasih kepada Elle Fanning yang membawa udara segar setiap kali wajahnya tampil di layar kaca, dan kisah percintaan antara Lily dan Dylan yang sangat lucu dan menyenangkan untuk ditonton. We Bought A Zoo bukanlah jauh dari kata buruk. Good, but not great.

B-

04 August 2012

StreetDance 2 (2012)



StreetDance 2 menceritakan tentang seorang penjual popcorn, Ash (Falk Hentschel) yang pernah sekali gagal ketika bertarung dengan seorang kru penari jalanan bernama "Invincible". Invincible dikenal sebagai kru yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh siapapun atau kru apapun. Kegagalan Ash membuat seorang anak muda bernama Eddie (George Sampson) untuk mencarikan Ash orang-orang yang ingin bergabung dan mengalahkan Invincible. 

Eddie akhirnya berhasil mengumpulkan para penari jalanan yang ingin bergabung dengan Ash. Tidak mudah awalnya, sebab Ash belum bisa menari dari hatinya yang membuat para penari jalan lainya merasa terganggu. Kemudian, Ash bertemu dengan Eva (Sofia Boutella) seorang penari latin yang ingin membantu Ash memenangi Final Clash. Ash dan para kru mempunyai enam minggu untuk berlatih dan memenangkan seluruhnya.

StreetDance2 tampil sangat mengecewakan. Dari menit awal film ini dimulai memang saya sudah merasa kebosanan. Memang porsi tari-menari disini lebih diperbanyak atau porsi nya lebih banyak dibandingkan seri pertamanya, namun dari segi plot sangat lemah. Street Dance 2 tidak menawarkan sesuatu yang baru. Max dan Dania kali ini saya nyatakan gagal menggarap film dance seperti ini. Aduh sepertinya hanya saya yang merasa kurang terhibur dengan film ini.

Saya harus mengatakan bahwa, susah memang membuat film dance seperti ini. Sang sutradara harus menyama-ratakan cerita dengan dance yang ada di film ini. Sejauh ini, Step Up masih jauh lebih menarik dibandingkan StreetDance yang kedua maupun yang pertama. Step Up lebih terlihat sudah jadi dan sudah lebih profesional dibandingkan Street Dance. Banyak sekali plot-holes disini. Yang membuat kita bertanya-tanya. Banyak sekali yang tidak dijelaskan oleh Max&Dania di film ini.

Pemilihan Falk Hentschel untuk memerankan tokoh Ash adalah kesalahan utama. Ekspresi Falk Hentschel terlihat sungguh datar. Sofia Boutella lebih pun tidak terlihat lebih baik namun karena keseksian-nya bermain disini mungkin terlihat sedikit menghibur dibandingkan para pemain disini. Tidak ada akting yang menonjol di film ini. Bahkan semua nya masih terlihat kaku atau masih terlihat deg-degan.

Lagi dan lagi saya katakan Street Dance 2 sangat gagal menghibur saya. Untuk koreografi memang terlihat lebih fresh dan lebih enak untuk dilihat. Koreografi nya lebih terlihat 'baru'. Banyak tarian-tarian yang mampu membuat saya mengatakan "wow". Namun, sangat disayangkan "Final dance" yang paling terakhir terlihat sangat membosankan. Masih lebih baik ketika mereka berada di suatu club ketika Ash bertemu dengan salah satu kru Invincible dibandingkan Final Dance yang seharusnya tampil mengesankan karena Final Dance lah yang telah ditunggu-tunggu oleh seluruh penonton. Bahkan saya tidak tahu mengapa kru nya Ash bisa menang dibandingkan Invincible. sangat menggelikan

Street Dance 2 tidak sepenuh-nya buruk. Untung ada koreografi yang terlihat lebih menyegarkan. Dan porsi tari-menari yang lebih banyak. Konfik disini terlihat disepelekan. Diselesaikan dengan begitu saja tanpa penjelasan. Saya sudah menonton Step Up 1-3 dan Streetdance. Dan saya selalu "merinding" ketika menonton film-film dance seperti ini, merasa terpukau akan kepandaian mereka menari. Tapi untuk StreetDance 2 saya tidak merasakan apa-apa.Ya, saya hanya menonton saja sampai film ini berakhir. Kali ini saya harus mengatakan bahwa StreetDance 2 belum bisa membuat saya terpukau. Jika di tagline film ini mengatakan bahwa film keduanya lebih "besar" dari pada film pertamanya,jelas itu sebuah tipuan.Saya hanya mampu mengutarakan satu kata setelah menonton film ini: "F.L.A.T"

           C-