28 September 2012

Katy Perry: Part Of Me (2012)


Katy Perry Part of Me movie poster completed

Katy Perry: Part Of Me dirilis pada 5 Juli lalu bisa dikatakan sebuah film yang memang sangat ditunggu-tunggu oleh fans berat Katy Perry. Layaknya film-film dokumenter lainya, kita semua memang sudah tahu jika kita akan dibawa ke kehidupan Katy lebih dalam lagi. Tentang persiapan tur nya yang juga sempat mengunjungi Indonesia yang tiketnya ludes dalam waktu 5 menit via online. Bukan hanya persiapan-persiapan tur nya, kita juga akan disaksikan kegiatan-kegiatan Katy yang memang cukup melelahkan. Dan para fans-fans yang tergila-gila akan Katy Perry. Juga tentang kehidupan katy yang bermula dari penyanyi gospel menjadi salah satu penyanyi terlaris. Pada akhirnya, saya sangat puas dengan apa yang saya saksikan. Katy Perry: Part Of Me adalah sebuah film dokumenter yang jauh diatas ekspektasi. 
 
Katy Perry: Part Of Me memang tidak sesukses Justin Bieber: Never Say Never yang dirilis tahun lalu. Dan mungkin Michael Jackson : This Is It. Cukup bodoh bagi fans berat Katy Perry untuk tidak menonton film yang satu ini. Bagi penonton yang bukan termasuk fans Katy Perry mungkin akan dikenalkan oleh sosok Katy Perry yang mungkin akan membuat para penonton yang sebelumnya hanya penonton biasa menjadi salah satu fans terberat Katy Perry. Dan bagi fans-fans Katy Perry, Katy Perry: Part Of Me akan membuat para fans nya semakin jatuh cinta kepadanya dan membuat para fans nya sangat iba dengan apa yang telah ia raih.



Katy Perry: Part Of Me juga diisi dengan lagu-lagu Katy Perry yang memang sangat layak jika lagu-lagu tersebut sempat pernah singgah di urutan pertama untuk hampir semua charts di dunia. Katy Perry memang sangat terkenal akan pakaian-pakaian nya yang lebih feminim. Dan pakaian yang sangat unik-unik dan yang lebih cerah. Katy Perry disini tampil sangat natural. Kita sangat-sangat merasakan kesedihan, kesenangan dan kebahagiaan yang ia rasakan. Lama-lama kita semakin terseret kedalam kehidupan Katy yang ternyata tidak semulus yang kita pikirkan. Tentang perkawinan nya dengan Russel Brand, dan album Katy yang sempat gagal untuk dirilis. 

Katy Perry: Part Of Me juga mengajak penontonya untuk mengetahui bagaimana awal karir Katy dan apa pendapat orang tua dan keluarga-keluarga Katy. Ya, Katy Perry: Part Of Me mampu membuat saya tersenyum dengan tingkah dan kata-kata Katy yang sangat lucu. Dan Katy Perry: Part Of Me mampu menghadirkan momen-momen mengharukan ketika Katy mulai menceritakan tentang karir nya sejak awal. Ya saya adalah fans Katy Perry jadi maklum saja jika saya merasa terharu melihat perjuangan katy yang dari seorang gadis biasa menjadi sebuah pop-star atau bisa kita sebut sebagai "The Queen Of Pop". Katy Perry: Part Of Me yang memang isinya tentang konsernya tahun lalu yakni California Dream Tour yang katanya tour ter-rapih di tahun tersebut. Kita akan menyaksikan Katy menghibur orang-orang yang menonton konser nya tersebut dengan lagu-lagu dan aksi-aksi nya di panggung yang memang sangat menghibur. Katy Perry akan membuat para penontonya semakin jatuh cinta. Sosok seorang Katy Perry yang sangat ramah kepada para fans nya yang memang mayoritas kaum hawa ini.


Overall, Katy Perry: Part Of Me adalah sebuah film documentary yang sangat-sangat jauh dari kata buruk. Dan Cutforth dan Jane Lipsitz sepertinya tidak akan membiarkan para katycats kecewa dengan film yang memang sudah mereka tunggu-tunggu. Atau yang sudah saya tunggu-tunggu. Katy Perry :Part Of Me seperti sebuah diary tentang Katy Perry, dikemas dengan sangat rapih. Mendekatkan para fans nya kepada tokoh Katy yang disini digambarkan sebagai wanita pekerja keras dan sangat berkomitmen. Banyak sekali pesan yang bisa diambil dari film ini. Intinya, Katy Perry ingin para penontonya terinspirasi oleh kisahnya yang memang tidak sepenuhnya berjalan dengan mulus untuk terus mengejar mimpi masing-masing dan untuk jangan pernah menyerah. Dan sedikit disisipkan Adele, Jessie J dan Rihanna mengomentari sosok Katy. Katy Perry : Part Of Me adalah salah satu film yang membanggakan di tahun ini!



A-

23 September 2012

Resident Evil: Retribution (2012)


Cukup banyak yang sudah kelelahan melanjutkan franchise Resident Evil ini. Paul W.S Anderson yang mengambil alih Resident Evil sejak Afterlife dan juga seorang yang menggarap Resident Evil di tahun 2002 yakni seri pertamanya. Entah apa yang membuat film ini begitu melelahkan untuk diikuti. Salah satu franchise yang sangat melelahkan atau sangat monoton. Tetapi, bodohnya kita para penonton masih terus-menerus memutuskan untuk menonton kembali seri yang makin lama kian memburuk. Tidak tahu apa yang ada dibenak Paul Anderson untuk terus melanjutkan seri ini. Tetapi, kita tahu bahwa franchise ini tidak akan ada habisnya.

Resident Evil: Retribution mengisahkan tentang Alice (Milla Jovovinch) yang tiba-tiba terbangun dan berada di ruang yang sepi hanya ditutupi dengan busana seadanya. Alice kali ini menjadi tahanan dan seseorang yang diincar-incar oleh Umbrella Corporation. Untungnya ada Li BingBing (Ada Wong) dan juga teman-teman lama Alice yang juga berada dalam seri-seri berikutnya yang ikut membantu Alice melarikan diri. Namun, hal tersebut tidaklah gampang. Karena ada Jill Valentine (Sienna Guillory) dan segerombolan timnya yang unstoppable layaknya sebuah mesin yang kian berdatangan untuk mengincar nyawa Alice.
RE:Retribution masih dengan formula yang sama. Rasanya ingin mengetuk kepala nya Anderson agar ia tersadar dari apa yang telah ia perbuat. Paul W.S Anderson memang berniat untuk bersenang-senang saja sepertinya dengan Resident Evil ini. Ditambah lagi dengan kualitas cerita yang semakin menurun. Bayangkan, dari kekurangan-kekurangan Afterlife dua tahun lalu, Retribution tampil jauh lebih buruk dari itu. Sayang sekali, padahal para penonton dan penggemar setia Resident Evil telah menunggu dua tahun lamanya untuk menyaksikan Alice menendang bokong-bokong mayat-mayat hidup yang seperti tidak ada habis-habisnya.

Terimakasih Tuhan hadir Michelle Rodriguez yang jelas adalah pemanis dalam film ini. Li BingBing kalah telak dengan Michelle Rodriguez. Bahkan zombie-zombie hidup tersebut lebih mempunyai ekspresi ketika bermain dibandingkan Li BingBing yang sudah seperti mayat hidup. Senyum, kaget, ketakutan rasanya sama saja ia tunjukkan. Milla Jovovich masih sama seperti di seri-seri berikutnya. Tidak buruk, namun tidak mencuri perhatian pula. Dan sisanya tampil sangat...cukup buruk sebenarnya. Kasihan sekali film ini.

Kekuatan jelas ada di 15 menit terakhir. Dimana kekuatan Alice lebih terlihat. Kita tidak perlu menyaksikan Alice bertengkar dengan para mayat hidup. Dengan menyaksikan Alice dengan Jill Valentine atau bahkan dengan Rain saja rasanya sudah cukup. Ketegangan yang dibalut dalam 15 menit terakhir tersebut terasa Resident Evil sekali. Walaupun terkadang terlihat begitu basi. Alice di seri kelima nya ini terlihat terlalu lemah. Seakan-akan menunjukkan kehancuran seorang Alice. Dan pembukaan film ini yang menurut saya cukup mengesankan. Membuat penonton bertanya-tanya.

Bagi fans setia Resident Evil sepertinya masih menganggap Retribution inin dijalur yang aman. Dan masih tetap menyukai seri-seri tersebut walaupun seburuk apapun ceritanya. BOOM dan BOOM, aksi dari awal hingga akhir pastinya akan disukai para fans nya. Namun tidak semua orang-orang biasa atau yang bukan fans dari Retribution atau mungkin yang baru pertama kali menyaksikan Resident Evil. Lelah untuk terus mengikuti si Alice ini berkelana dan membunuh para musuh-musuh yang saya akui makin lama makin mengerikan. Resident Evil:Retribution belum mampu membuat saya terengah-engah kehabisan nafas menyaksikan adegan-adegan didalamnya. Gagal dalam aksi-aksi yang seharsunya mampu menjadi aksi andalan dalam film ini. Retribution sangat kurang gereget.

Overall, Resident Evi: Retribution yakni seri kelima dari franchise Resident Evil tampil sangat mengecewakan. Apalagi untuk orang-orang yang telah mati-matian menunggu seri yang selisih dua tahun dari seri keempatnya. Jujur saja saya cukup menyukai seri keempatya. Masih dalam zona yang aman, Retribution terlihat begitu lemah menjadi seri terburuk dari semua seri-serinya. Paul W.S Anderson seperti bermalas-malasan untuk melanjutkanya. Ditambah dengan tidak didukungnya dari para pemain disini juga sangat mengecewakan. Dan adegan slow-motion nya yang tidak berkesan sama sekali. Yang mungkin tidak diperlukan lagi untuk mempercantik adegan-adegan di film ini. Efek 3D nya bisa dibilang cukup membantu. Adegan aksi nya sebenarnya pas, cerita yang semakin melemah. Singkat kata, Resident Evil:Retribution adalah film garapan Paul W.S Anderson yang sangat mengecewakan. 

                 C




21 September 2012

Crazy Little Thing Called Love (2010)

 

Crazy Little Thing Called Love mengisahkan tentang anak SMU bernama Nam (Pimchanok Lerwisetpibol) yang sedang jatuh cinta dan tergila-gila dengan kakak kelas nya, P-Shone (Mario Maurer) yang memang selalu membuat para wanita tergila-gila. Merasa tidak percaya diri, Nam memutuskan untuk mengubah dan mengorbankan semuanya hanya untuk mendapatkan hati P-Shone. Namun, itu tidaklah mudah. Banyak sekali halangan yang menghalangi jalan Nam untuk menjadi satu-satunya wanita untuk P-Shone.

Sayangnya, apa yang dikatakan teman-teman saya tepatnya kaum hawa bahwa film ini sangat mudah untuk dinikmati dan segala hal-hal positif yang keluar dari mulut mereka tidak sepenuhnya saya rasakan sepanjang 112 film ini berlangsung. Ya, cukup lama memang film ini. Apalagi bagi orang-orang yang kurang menyukai jenis film ini mungkin 30 menit pertama sudah terasa membosankan. Sejujur-jujurnya bagian terlemah dari film ini terletak dari beberapa adegan dan kalimat-kalimat cheesy yang sangat disayangkan berada di paruh pertama film ini. Saya sebenarnya lebih menikmati paruh pertama karena paruh kedua terasa kurang spesial.

Crazy Little Thing Called Love masih cukup menghibur. Terutama dari adegan-adegan lucu dari karakter-karakter yang sangat membantu dan semakin membuat film ini lebih menghibur. Saya awalnya memang terlalu merendahkan film thailand ini. Meremehkan bahwa film ini akan berakhir sama seperti film-film drama lainnya. Namun, hasilnya Crazy Little Thing Called Love cukup menghibur dan mengejutkan. Adegan-adegan yang mampu membuat para penonton mengatakan "Awwww...so sweet" hadir dari awal hingga akhir. Wasin Pokpong mampu mengemas Crazy Little Thing Called Love menjadi sangat imut dan sangat sulit untuk tidak menyukai film ini. Hanya orang bodoh mungkin yang membenci film seimut film ini.

Berterimakasih kepada para pemain yang semuanya mampu menghidupi karakter mereka masing-masing. Mereka melakukan tugas mereka dengan sangat-sangat baik. Terutama Pimchanok Lerwisetpibol yang mampu membuat karakter Nam menjadi sangat menggemaskan. Dan Mario Maurer yang tidak bisa disangkal mampu membuat para perempuan berteriak keras dan berandai-andai jika merekalah perempuan yang beruntung bermain bersamanya di dalam film ini. Kemudian, ketiga teman Nam yang sangat mencuri perhatian. Dan yang terakhir, sang guru yang bermain dengan sangat total. Hadir menjadi karakter guru yang sangat lucu yang mampu membuat para penontonya tertawa melihat adegan konyol yang tidak pernah gagal untuk tampil lucu.

 Overall, Crazy Little Thing Called Love adalah film drama/comedy biasa yang mungkin seratus-persen hanya mampu dinikmati oleh kaum hawa yang jelas sangat menyukai jenis-jenis film semacam Crazy Little Thing Called Love. Dua karakter utama yang lucu-lucu juga pastinya akan disenangi oleh penyuka-penyuka film sejenis. Jujur saja saya tidak menikmati Crazy Little Thing Called Love sepenuhnya, karena beberapa adegan tampak terlalu dibuat-buat. Dan film terkadang terasa terlalu bertele-tele. Dari segi pengeksekusiaan mungkin bisa dikatakan Wasin PokPong mampu mengeksekusi film ini dengan begitu muda, segar dan lucu. Mungkin Crazy Little Thing Called Love memang dibuat hanya untuk senang-senang saja. Saya cukup menyukai film ini. 




B-

20 September 2012

A Serbian Film (2010)

 


Milos (Srdjan Todorovic) adalah seorang mantan bintang porno yang ingin kembali ke kehidupan lamanya. Kondisi perekonomian Milos beserta keluarganya sangat memperihatinkan yang membuat Milos ingin kembali ke pekerjaan lamanya. Milos mendapat bayaran yang cukup besar dari sang sutradara yang memang sangat menyukai Milos karena kehebatan nya bermain dalam film porno. Milos tidak tahu bahwa akan ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi Milos. Tidak hanya Milos namun keluarganya yang semakin lama semakin terseret kedalam permasalahan yang Milos hadapi.

Jika melihat kembali apa yang sudah saya tonton. Menyesal rasanya. Bukan berarti film ini adalah film yang buruk. Menyesal rasanya menghabiskan waktu menonton adegan-adegan yang bisa membuat saya meringis seperti kesakitan. Film ini mampu membawa penontonya untuk masuk kedalam film ini dan melihat secara langsung apa yang telah terjadi. Ingin cepat-cepat menghapus memori mengenai adegan-adegan yang terus menerus terpikir di benak saya. A Serbian Film bisa dikatakan berhasil membuat penontonya meringis, berteriak dan menganga akan hebat nya film ini tampil begitu vulgar.

Kelemahan mungkin dari segi penceritaan. Dan para pemain yang seperti tidak diberi ruang untuk menunjukkan kebolehan masing-masing. Selain kelemahan-kelemahan tersebut. Terkadang A Serbian Film memang cukup membosankan. Dan banyak sekali adegan-adegan yang tidak masuk akal yang memang walaupun para karakter memang diharuskan untuk melakukan hal tersebut. Film ini tampil sangat serius dari awal hingga akhir. Tidak mengijinkan para penonton untuk bersantai atau beristirahat sejenak dari adegan-adegan yang sangat tidak pantas untuk disaksikan dan adegan yang tidak ber-moral. 

Srđan Spasojević is smart. Srdan Spasojevic sangat pintar untuk mengemas A Serbian Film dengan lumayan apik atau setidaknya masih layak tonton. Bukan seperti film-film kelas B yang hanya mengandalkan adegan-adegan vulgar dan semacamnya. Srdan Spasojevic meninggalkan bekas luka para pemain yang tepatnya para perempuan yang terksakiti. Dan twist di akhir film. Well, cukup disayangkan memang, saya memang tidak mau film ini berakhir dengan cara yang seperti itu. Sedikit terlalu lembek dan lemah untuk ukuran A Serbian Film yang memang dari awal sudah tampil gila. Apa yang ada dipikiran saya ketika detik pertama film ini selesai adalah bahwa saya tidak akan menonton nya atau mengulangi film ini kembali.

Overall, A Serbian Film is just another boring torture porn. Tidak se-sadis ekspetasi. Namun, film ini adalah film yang cukup berani apalagi di film 2010 dimana film-film spektakuler mengumpul dan berlomba-lomba untuk menarik hati para penonton. A Serbian Film dari awal memang sudah mengejutkan penontonya. Bisa dikatakan bahwa A Serbian Film mungkin adalah film tergila dan ter-bangsat yang pernah saya tonton. Eh, membuat saya terus menerus menutup mata melihat adegan demi adegan yang memang tidak sepantasnya disaksikan. Harus diakui bahwa A Serbian Film berani untuk tampil beda dari yang lain. Meninggalkan adegan-adegan tak berperimanusiaan di otak saya yang terkadang ingin muntah rasanya meningat kembali. A Serbian Film was okay. Not digging this much.


C+

16 September 2012

QUICK REVIEW: EXAM (2009) & ATM (2012)


EXAM(2009)
 
Exam adalah sebuah film thriller physcology yang jauh dari kata buruk. Sejujurnya salah satu film favorit saya sepanjang masa. Sederhana memang, hanya mempertunjukkan cara atau perjuangan orang-orang ambisius ini untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan dibalik banyaknya peraturan-peraturan yang sekali mereka langgar merekapun akan benar-benar kehilangan semuanya. Exam tidak didukung oleh artis atau pemain-pemain papan atas. Namun, bisa dikatakan mereka semua bermain dengan cukup mengesankan. Bagian-bagian akhir memang sedikit membosankan. Kemudian ending nya yang sedikit terlalu memaksakan. Dibalik beberapa kekurangan tersebut, kekurangan-kekurangan tersebut masih belum mampu mengurangi rasa cinta saya terhadap film ini. Overall, Exam tampil sangat mengesankan. Unik dan menghibur. Adegan-adegan yang menegangkan serta para pemain yang mampu menghidupkan karakter masing-masing. Penuh dengan tanda tanya. Penonton memang diminta untuk mencari tahu sendiri apa maksud dari film ini. Stuart Hazeldine mampu menggarap “Exam” dengan sangat-sangat cerdas.

A-

ATM(2012)

 
ATM adalah sebuah film semacam horror/slasher yang digarap oleh David Brooks yang hasilnya sangat jauh dari kata mengesankan. Sangat berbanding terbalik dengan film diatas. ATM tampil sangat membosankan. Apalagi di awal film yang sudah membuat saya cukup jengkel karena tampil sangat membosankan. Mengamati pria dan wanita berbincang-bincang, rasanya saya ingin potong saja adegan itu. ATM juga memperlihatkan aksi-aksi bodoh para pemainya. Banyak sekali hal-hal yang mungkin terlalu bodoh untuk dilakukan umat manusia tapi dilakukan oleh tiga pemain tolol yang ada di film ini.Berharap untuk mendapatkan ending yang bagus dibalik hancur-remuknya film ini, saya masih belum bisa mendapatkan ending yang pas untuk film ini. Oke, mungkin dari segi positifnya dari beberapa adegan ATM masih mampu membuat penontonya ketakutan sedikit melihat orang misterius mengincar tiga orang malang ini. Untung pula ada Alice Eve yang sangat cantik yang membuat mata saya tetap terbuka lebar sambil menyaksikan adegan-adegan bodoh yang telah dilakukan. Banyaknya plothole juga sangat menganggu. Sangat sulit untuk menikmati film ini. ATM adalah salah satu film paling mengecewakan di tahun ini.

D+

12 September 2012

Paranormal Xperience (2012)


Paranormal Xperience menceritakan tentang lima orang mahasiswa psikologi, Angela ( Amalia Salamanca), Carlos (Lucho Fernandez), Jose (Maxi Iglesias), Belen (Ursula Carbero) dan Padre (Eduard Farelo) diberi tantangan oleh sang dosen untuk mendapatkan nilai yang bagus. Mereka ditantang untuk mendatangi sebuah tempat pertambangan yang sudah tidak terurus karena adanya sosok seorang dokter yang masih mencari mangsa. Mereka berlima tidak sendirian, karena ditemani oleh Diana (Alba Ridas) yang memiliki van kecil untuk mengantar mereka ke tujuan tersebut. Tantangan yang awalnya cukup berjalan mulus lama kelamaan menjadi mengerikan karena sosok sang dokter itu mulai menampakkan diri.

Paranormal Xperience adalah sebuah film yang sangat mengecewakan saya. Eksploitasi mungkin bisa dibilang oke, tidak ada yang salah. Sergi Vizcaino mampu membuat Paranormal XPerience setidaknya untuk lebih sadis. Namun, adegan sadis yang menjadi satu-satunya hal yang paling bisa dibanggakan tidak mendapatkan banyak tempat di film ini. Kita hanya diperlihatkan enam tokoh berjalan-jalan. Alur yang terasa lambat membuat Paranormal Xperience menjadi sangat membosankan di 30 menit pertama. 

Selain 30 menit pertama yang terasa membosankan. Saya mencoba untuk membuka lebar mata saya ketika menonton Paranormal Xperience karena rasa penat dan kebosanan yang sangat-sangat terasa mungkin bukan hanya di 30 menit pertama namun juga di seluruh film dari awal, pertengahan hingga akhir. Adegan pembukaan yang sangat-sangat bodoh juga sangat menjijikan tidak membuat penontonya merasa terkejut sama sekali. Tidak ada pula adegan-adegan kejutan yang bisa membuat penontonya lompat dari bangku atau mengaga. Tidak ada adegan yang membuat penonton teriak, oke mungkin dari segi eksploitasi sebagian besar penonton memilih untuk tidak melihatnya karena bisa dibilang adegan tersebut cukup mengilukan. Entah apa yang coba ditunjukkan oleh Sergi Vizcaino. Film berjalan tanpa arah.

Dari pemainya sendiri, uh. Mereka seperti baru belajar ber-akting. Seperti Alba Ridas, Alba Ridas masih terlihat kaku di beberapa bagian. Namun masih bisa dimaklumi. Walaupun kita penontonya kurang enak untuk melihat akting seorang pemain yang kaku. Kemudian, Amaia Salamacha pun masih terlihat kurang dalam berakting. Dan yang terburuk adalah Lucho Fernandez dan Maxi Iglesias yang sangat-sangat kaku. Kebodohan karakter disini pun sangat menganggu. Naskah pun terlihat lemah. Serta plothole yang sangat-sangat menganggu. Mau jadi apa film ini? 

Keseluruhan, apa yang telah disajikan oleh Sergi Vizcaino adalah sebuah film yang sangat mengecewakan bagi penontonya. Apalagi bagi penggemar genre film slasher tersendirinya. Tidak ada sesuatu yang baru yang membuat film ini terasa biasa saja atau hambar. Dari 80 menit berlalu, kita hanya diperlihatkan enam orang yang bodoh mencoba melarikan diri. Bodohnya, mengapa mereka masih ditempat itu-itu saja. Karakter demi karakter seperti tidak diberi otak di dalam film ini yang membuat mereka untuk berpikir. Kurangnya adegan-adegan menegangkan pun menurunkan poin bagi film ini. Such a waste of time. 

D+

10 September 2012

What To Expect When You're Expecting (2012)



Akhirnya, saya tonton juga film ini. Ketinggalan film ini di bioskop bukan berarti saya tidak akan menonton film ini, pokoknya saya harus tetap menonton film ini. Salah satu film yang paling saya tunggu-tunggu. Mungkin dari daftar pemain nya yang memang semuanya bisa akting. Terutama karena adanya Jennifer Lopez dalam film ini. What To Expect When You're Expecting ini sendiri diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Heidi Murkoff. Dari awal memang niatnya hanya untuk melihat para pemain-pemain menakjubkan berkating dalam satu film, jadi tidak ada ekspektasi atau berharap akan film ini menjadi film terbaik tahun ini. Saya berniat hanya untuk menikmati saja. Buruk dan baik nya itu urusan belakangan.


What To Expect When You're Expecting bercerita tentang lima orang pasangan yaitu Jules (Cameron Diaz) dan Evan (Matthew Morrison) yang dikejutkan dengan kehamilan anak pertamanya. Kemudian, ayah nya sendiri Ramsey ( Dennis Quaid ) dan istri muda nya Skyler (Brooklyn Decker). Wendy (Elizabeth Banks) dan Gary (Ben Falcone) yang sudah menunggu sejak dua tahun lamanya akan kehamilan anak pertamanya. Ada pula pasangan muda yang belum menikah, namun dikejutkan akan kehamilan Rosie (Anna Kendrick) dari ayah bernama Marco (Chace Crawford) dan yang terakhir pasangan yang memang sudah terlalu lama ingin mempunyai anak namun belum berhasil, Holly (Jennifer Lopez) dan Alex (Rodrigo Santoro). Selama 111 menit berlangsung, What To Expect When You're Expecting memperlihatkan kelima perempuan tangguh beserta pasangan nya melewati bersama masa-masa yang terkadang manis dan juga pahit. 

What To Expect When You're Expecting sebenarnya cukup menarik. Apalagi di adaptasi oleh novel seperti panduan kehamilan menjadi sebuah film. Menurut saya, naskah nya lah yang terlemah di sepanjang film ini. What To Expect When You're Expecting untungnya mempunyai para departemen akting yang sangat jauh dari kata mengecewakan. Mereka semua tampil all-out. Dengan komedi-komedi yang sesekali berhasil namun kebanyakan memang tampak seperti dibuat-buat malah jadinya tidak lucu atau yang sering diucapkan sekarang, garing.

Anna Kendrick lah yang paling memukau disini bagi saya. Kemudian, Elizabeth Banks dan Jennifer Lopez. Seperti yang saya katakan semua bermain dengan sangat-sangat baik di sini. Begitupula Cameron Diaz. Elizabeth Banks dapat membuktikan kalau ia bisa bermain sebagai apa saja. Menjiwai karakter tersebut. Anna Kendrick berhasil tampil fresh and young diantara Jennifer Lopez dan Cameron Diaz yang sebenarnya sudah mencapai 40-an. Jadi Anna Kendrick seperti angin segar diantara casts lain nya. Chace Crawford juga tampil lumayan baik. Yang sebetulnya sangat saya tidak sukai disini adalah Chris Rock yang sangat annoying menurut saya. Kemudian, Dennis Quaid yang sebenarnya sangat disayangkan tidak bermain sebaik film-film sebelumnya. Dan terakhir, Rebel Wilson yang memang selalu menjadi sesuatu yang mudah untuk ditertawakan. Dari kata-kata yang dilontarkan maupun dari adegan-adegan yang ia lakukan. Ia juga membantu What To Expect When You're Expecting untuk menjadi film yang lebih segar.

What To Expect When You're Expecting tidak sepenuhnya berjalan lancar. Karena memang drama selalu dikenal dengan kata membosankan. Memang ketika waktu sudah mencapai 60 menit memang What To Expect When You're Expecting sedikit membosankan. Bawaanya ingin menguap saja. Bagian terkuat adalah 20 menit terakhir dimana kita semua bisa melihat momen-momen yang mengharukan. Perjuangan para ibu-ibu untuk melahirkan anak mereka masing-masing. Apalagi Cameron Diaz yang terlihat sangat menonjol pada saat adegan tersebut. Membuat saya terharu. Kemudian, setiap kali ada adegan Rosie dengan Marco selalu membuat saya tersenyum. Selain naskah yang lemah, sedikit membosankan juga datar. Dari segi penceritaan juga tidak menawarkan sesuatu yang baru. Kirk Jones seperti kebingungan untuk menunjukan aktris dan aktor siapa yang akan muncul setelah ini karena banyaknya pemain disini yang semuanya ingin menampilkan yang terbaik dan semuanya bisa. Jadi, banyak pemain yang seperti terlupakan atau porsi nya tidak sebanyak yang lainya. Saya terkadang berharap akan porsi Anna Kendrick sebagai Rosie lebih diper banyak. 

Overall, What To Expect When You're Expecting adalah film yang cerdas. Tidak sempurna. Namun setidaknya film ini masih bisa dikatakan sebagai film yang berhasil membuat saya terharu, tertawa, jengkel dan tersenyum melihat adegan para casts yang sangat menjiwai karakter dan menghidupkan karakter yang mereka perankan masing-masing. Ada sedikit pesan-pesan yang bisa kita petik. Dan komedi yang mampu membuat para penonton sedikit terseyum agar tidak merasa terlalu kebosanan. What To Expect When You're Expecting sangat jauh dari kata mengecewakan. What To Expect When You're Expecting masih sangat layak untuk ditonton. Dan paling terakhir, What To Expect When You're Expecting bisa dikatakan berhasil untuk menghibur penontonya. Kalau memang kalian tidak berekspektasi apapun terhadap film ini.


B


09 September 2012

The Cabin In The Woods (2012)

The Cabin In The Woods mungkin salah satu film yang paling ditunggu-tunggu oleh semua pecinta film. Apalagi bagi semua pecinta film horror/slasher di tahun ini. Setelah mengetahui bahwa Joss Whedon juga ikut mengutak-atik film ini, saya semakin penasaran akan film ini, apa yang akan disajikan. THe Cabin In The Woods tidak berusaha terlalu keras untuk menjadi film yang nomor satu, hanya ingin kita untuk bersenang-senang dan ikut merasakan apa yang Dana, Curt, Jules, Holden dan Marty rasakan. Film yang sebenarnya sudah dibuat sejak tahun 2009 lalu ini, kemudian diundur sampai tahun 2012 ini sangat layak untuk disaksikan berulang-ulang kali.


The Cabin In The Woods mengisahkan tentang lima anak-anak muda, Dana ( Kristen Conolly) Marty (Fran Kranz), Curt (Chris Hemsworth), Jules (Anna Hutchison) dan Holden (Jesse Williams) yang ingin berlibur ke suatu tempat yang sangat jauh dari peradaban. Mereka menemukan sebuah Cabin yang mereka inginkan. Tetapi, mereka tidak sadar bahwa mereka telah diawasi oleh orang-orang yang sedang bersiap untuk melihat siapa yang akan mati duluan dan belakangan.

The Cabin In The Woods memang awalnya berjalan seperti layaknya film-film thriller kelas B luar. Percayalah, itu baru awalnya. The Cabin In The Woods sangat bisa membuat para penontonya untuk terkencing-kencing. Drew Goddard tidak rela kita keluar dari bioskop hanya untuk menyaksikan satu-per-satu pemainya mati. Ia ingin menujukkan lebih dari itu. The Cabin In The Woods dengan mudahnya menyusup ke chart ter-atas daftar film terbaik di tahun ini.
The Cabin In The Woods dari awal-pertengahan hingga akhir patut diacungi jempol. Saya tidak pernah merasa kebosanan melihat kelima pemain disini bersenang-senang. Kristen Conolly bermain dengan sangat mengesankan. Begitu pula sisa nya. Chris Hemsworth juga berhasil meninggalkan kebiasaan nya bermain sebagai pahlawan hanya untuk film ini. Mungkin sebagian besar orang menonton The Cabin In The Woods juga untuk melihat Chris Hemsworth bermain dalam film horror.

Drew Goddard berhasil memberikan surprise demi surprise yang selalu saja berhasil bagi penontonya. Dan film ini tidak semata-mata hanya untuk kaget-kagetan. The Cabin In The Woods dengan berhasil membuat saya terkejut berkali-kali. Terkadang membuat saya menutup mata saya. Dibalik kelebihan film ini, saya terkadang berharap akan adanya adegan kejar-kejaran atau mungkin adegan eksploitasi yang lebih dari yang sudah disajikan. Tidak mengecewakan, jauh di atas ekspektasi bahkan. Hanya berharap The Cabin In The Woods bisa membuat semua orang di bioskop untuk terlompat-lompat akan aksi demi aksi ketika para mahkluk-mahkluk aneh ini muncul di layar tersebut.

Overall, Setelah keluar dari bioskop kesayangan yang ada hanya rasa kepuasan akan film ini. Tidak menyangka bahwa saya akan mencintai film yang satu ini. Film ini sangat mudah untuk disukai oleh semua orang, khusus nya pecinta genre seperti ini. Casts yang luar biasa, kejutan demi kejutan yang cukp dan eksekusi yang memang harus diacungi jempol membuat The Cabin In The Woods menjadi film favorit saya di tahun ini. Saya terus-terusan berharap agar tidak ada di posisi mereka semua, sayangnya The Cabin In The Woods membuat kita semua penonton seperti hadir di dan berpesta bersama kelima anak muda malang tak bermasalah ini didalam Cabin tersebut. Jangan lupakan sisipan komedi yang works well untuk penontonya. At the end, The Cabin In The Woods adalah film yang sangat sulit untuk dilupakan. Drew Goddard, you da man!


A

06 September 2012

Piranha 3DD (2012)



Piranha 3DD atau seri keduanya menceritakan tentang pembukaan sebuah waterpark terbaru milik Chet (David Koechner) yang terletak di Lake Victoria. Seperti yang kita tahu,  Bagi yang sudah menonton seri pertamanya pasti akan mengetahui secara langsung bahwa Lake Victoria adalah tempat para piranha-piranha memakan daging-daging segar manusia yang ada di sekitar tempat tersebut. Sudah mendapatkan larangan dari Maddy (Danielle Panakaber) untuk segera menutup waterpark tersebut, Chet malah mengabaikan. Chet tidak menyangka bahwa ikan-ikan ganas yang mengerikan ini ternyata sedang berkeliaran dan sangat kelaparan akan daging segar.


Piranha 3DD bukan lagi diambil alih oleh Alexander Aja namun John Gulager. Jujur saja, seri pertamanya masih bisa dikatakan sebagai Horror/Thriller yang layak tonton. Tingkat ketegangan maksimal apalagi di 20 menit terakhir. Film pun ditutup dengan memukau oleh Aja. Bisa dikatakan Piranha atau seri pertamanya ditata rapih oleh Alexander Aja. Adegan demi adegan tampak mengerikan, tak habis pikir jika saya berada di suasana tersebut. Berbeda dengan seri keduanya, Piranha 3DD tampil sangat buruk. 

Piranha 3DD hanya mengandalkan perempuan-perempuan berbikini atau bahkan tanpa busana. Dengan alur cerita yang sangat acak-acakan. Dan adegan yang sangat bodoh. Kali ini John Gulager membuat setiap pemain disini tampak bodoh dan tampak tidak punya otak. Mungkin hampir semua mengatakan telah menyesal menonton seri keduanya. Opening weekend yang sangat mengecewakan pula, apalagi jika dibandingkan dengan seri pertama karya Alexander Aja. Sedih rasanya melihat seri keduanya ini, John Gulager tampak sengaja menghancurkan film ini yang sebenarnya di seri pertama sudah dapat menarik baynak penonton. Kali ini, penonton sudah muak dengan film ini. Yang paling membuat saya muak adalah adegan slow-motion yang sangat menjijikan. 

Banyaknya wanita-wanita tanpa busana disini pun sangat memuakkan. Piranha 3DD awalnya tampil seperti film murahan yang sangat tidak menjanjikan. Para pemain pun tidak mendukung film mereka sendiri. Danielle Panakaber tampil seperti dia baru belajar ber-akting. Sementara, akting nya di Friday The 13th cukup mengesankan. David Hasselholf disini pun tampil sangat annoying. Entah apa maksudnya menambah David untuk bermain disini. Dan mengapa David mau menerima film murahan seperti ini.

At the end, Piranha 3DD tampil sangat membosankan. Adegan-adegan bodoh yang sangat tidak habis pikir. Mungkin salah satu bagian positif Piranha 3DD adalah beberapa adegan memang tampil sedikit mengejutkan. Dan Piranha 3DD tampak lebih gesit dan lebih banyak. Dan ada Katrina Bowden yang sangat menawan. Serta yang sebenarnya tidak perlu saya masukkan kesini tapi saya masukan. Kasihan, terlalu banyak sisi negatif nya. Poster-poster Piranha 3DD lebih menawan dan lebih high-class dibandingkan seri pertamanya. Namun sangat disayangkan, isi nya tidak. Piranha 3DD tidak pantas disebut sebagai film thriller. Entah apa yang ada dipikiran John Gulager membuat film seperti ini. franchise ini tampak sangat membuang-buang waktu. Bahkan dengan hanya 73 menit film ini berlangsung masih bisa saya katakan membuang-buang waktu saya. Mengecewakan. 

D+