
The Impossible mengisahkan tentang satu keluarga, Maria (Naomi Watts) suaminya Henry (Ewan McGregor) dan ketiga putra mereka Lucas (Tom Holland), Simon (Oaklee Pendergast) dan Thomas (Samuel Joslin) yang menghabiskan libur natal mereka di Thailand. Liburan mereka berjalan begitu menyenangkan sampai sebuah tsunami menerjang Thailand dan memisahkan kelima-limanya. Ombak besar tersebut meninggalkan Thailand menjadi begitu kacau. Maria dan Henry harus tetap tegar walaupun memang berat dan harus tetap kuat dalam bertahan hidup demi ketiga puteranya.
The Impossible tidak sepenuhnya sempurna, namun jelas adalah sebuah karya dari Juan Antonia yang sangat membanggakan. Sebuah film yang dapat menyentuh setiap penontonya. Berbicara soal menyentuh, saya memang tersentuh dengan berbagai adegan yang ditunjukan. Dan bukan hanya saya saja, tetapi semua orang yang menyaksikan film ini. Kebanyakan orang yang menyaksikan menangis tersedu-sedu, namun tidak halnya dengan saya. Itu memang menyentuh, namun Juan Antonia kurang mampu mengeksekusi adegan-adegan yang tergolong mampu membuat penontonya tersentuh menjadi rentetan adegan yang betul-betul mengharukan. Dan beberapa adegan tersebut pun terkadang terlalu dilebih-lebihkan seperti Sinetron-sinetron Indonesia sekarang ini.
Dari akting para pemainya tidak ada yang tampil mengecewakan sedikit pun. Naomi Watts, tampil dengan sangat seksi. Walaupun memang hadir dengan porsi yang...tidak sebanyak yang saya pikirkan sebelumnya. Ternyata 'The Impossible' lebih rela porsi terbanyak tersebut diberikan kepada Lucas. Lucas yang diperankan oleh Tom Holland adalah aktor terbaik diantara semuanya. Disaat ia harus bersifat dewasa, ia berhasil. Dan disaat ia harus bersifat cengeng dan manja, ia pun berhasil. Ewan McGregor juga bermain dengan sangat baik. Dan begitu pula Samuel Joslin dan Oaklee Pendergast. Dan kelima-limanya betul-betul berhasil membuat adegan yang menyertakan mereka sendiri menjadi lebih baik. Setiap kali Naomi Watts tampil, saya selalu merinding. Menyaksikan betapa sedihnya Naomi Watts dan betapa sengsaranya ia di film ini.
Selama 106 menit, sepertinya 'The Impossible' betul-betul tampil dengan sangat konsisten. Tidak pernah merasa kebosanan adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkan betapa indahnya 'The Impossible'. Bahkan 'The Impossible' jauh lebih mengerikan dibandingkan horror-horror yang dirilis tahun 2012 (kecuali Sinister). Betapa mengerikanya sebuah Tsunami yang mampu menghancurkan satu kota yang besar hanya dengan kedipan mata. Kehancuran tersebut pun berhasil digambarkan oleh 'The Impossible' dengan cukup baik. Dan kita pun pastinya turut prihatin dengan keadaan di dalam film yang memprihatinkan tersebut.
Kelemahan 'The Impossible' mungkin seharusnya mampu tampil lebih menyegarkan lagi. Dan seharusnya bisa tampil lebih emosional dan lebih mengharukan lagi. Ending-nya pun terlihat biasa saja jika di 30 menit pertama adalah menit-menit yang begitu kuat namun di bagian akhir, hanya biasa saja. Namun, tidak sah pula jika mengatakan bahwa 'The Impossible' adalah sebuah sajian yang mengecewakan. Adalah sebuah film yang menyentuh di beberapa bagian. Dengan jajaran pemain yang tampil dengan fantastis. Sangat disayangkan jika melewatkan film ini dengan sia-sia. Saya merekomendasikan film ini bagi orang-orang yang mudah tersentuh dan orang-orang yang berhati lembut, mungkin film ini akan berhasil bagi mereka. Namun, bagi kebanyakan orang yang menginginkan lebih, 'The Impossible' bisa lebih baik dari ini. Secara keseluruhan, sama sekali bukanlah hasil yang mengecewakan dari Juan Antonia Bayona!

No comments:
Post a Comment